Tampilkan postingan dengan label Istanaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istanaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 15, 2007

Betapa Aku Sangat Mencintai Mereka


Jam 02.00 WIB dini hari tadi aku terbangun. Ku terduduk dipinggir ranjang memperhatikan suami dan anak2ku terkasih terlelap. Betapa aku sangat mencintai mereka...

Aku jadi ingat, dulu sewaktu aku kecil, aku juga sering terbangun tengah malam atau dini hari. Ya, sama seperti yang aku lakukan semalam, aku duduk dipinggiran ranjang dan memperhatikan Bapak, Ibu dan Adikku yang tertidur pulas (saat itu seingatku, aku masih TK besar, berarti sekitar 6 tahun usiaku dan adikku paling bungsu belum lagi lahir). Betapa aku sangat mencintai mereka. Kemudian terpikir dalam pikiran kanak2ku saat itu. Bahwa aku ingin selalu bersama mereka. Hidup dalam kasih sayang mereka. Ketika sampai kesadaran bahwa manusia akan mati, yang terpikir olehku adalah aku ingin mati bersama mereka. Ya, saat itu, aku berpikir untuk bisa mati bersama2 mereka. Karena aku nggak mau, apabila salah satu dari kami harus menjemput maut lebih dulu, akan membuat sedih anggota keluarga yang lainnya. Jadi dalam khayalku, dalam memberitakan kematian kami, yang tampak di surat kabar adalah headline besar "Satu Keluarga mati tertimpa reruntuhan rumahnya sendiri; Tidak ada satupun yang selamat". Atau "Satu Keluarga Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas". Hhhmmm... Khayalan yang sadis, mungkin, tapi sungguh, aku takut untuk merasakan kehilangan atas salah satu anggota keluargaku terkasih.

Masih terekam dalam ingatanku, ketika Bapakku harus lembur di kantornya, maka aku akan terus terbangun menunggu Bapakku pulang. Bila Bapakku pulang terlambat dari waktu yang dijanjikannya, maka aku akan membangunkan ibuku dan terus menerus bertanya kenapa Bapak belum pulang juga. Gak jarang kemudian ibuku menjadi kesal karena pertanyaan2ku itu mengganggu tidurnya adikku... Kemudian saat Bapak sampai rumah, maka aku akan langsung lari ke gendongannya sambil menangis tanpa suara. Tangis takut dan senang. Takut kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Bapakku dan senang karena Bapakku sudah pulang.

Sekarang, sebagai seorang ibu dan istri, ketakutan2 itu juga datang padaku. Tapi semalam, saat aku perhatikan wajah bidadari2ku yang pulas, yang terlintas dalam benakku adalah, aku tidak mau sesuatu terjadi pada mereka. Aku akan melakukan apapun demi mereka. Pikiran ingin mati bersama seperti saat masih bersama Bapak Ibu dulu sempat juga terlintas juga. Tapi segera aku tepis pemikiran itu. Gak adil buat anak2ku... Masa depan mereka masih sangatlah panjang. Tapi seandainya Allah Yang Maha Kuasa mengijinkan, semoga dia panggil aku lebih dahulu sebelum anak2ku dan suamiku. Karena aku gak akan sanggup menahankan rasa sedih karena kehilangan mereka. Betapa aku sangat mencintai mereka. Tapi urusan mati tetaplah urusan Allah. So, aku hanya bisa berharap dan tetap mengembalikan segalanya dalam kehendakNya.


"Ya Allah, betapa aku sangat mencintai mereka. Namun segalanya tetaplah berpulang padaMu jua dan atas kehendakMu. Tiada lain yang aku harapkan hanyalah kebahagian mereka. Orang2 yang sangat aku cintai dengan segenap hati dan jiwaku. Cintailah mereka Ya Allah... Sebagaimana orangtuaku mencintai aku sewaktu aku masih kecil. Pelihara dan lindungilah mereka selalu sepanjang hidup mereka. Kuserahkan segalanya hanya dalam tanganMu... Amien..."

Kamis, Juli 19, 2007

Mimpi itu...

Kemarin Mak cerita kalo dia bermimpi yang mungkin sebuah pesan. Dalam mimpinya dia lihat Mahani memaksaku untuk membuka daster yang aku pakai. Daster biru kesayanganku, oleh2 Mahani waktu ke Bali. Daster biru yang sekarang dah gak karuan bentuknya karena terlalu sering aku pakai. Daster biru kesayangan waktu aku masih hamil Ade Ayha.
Dalam mimpi emak itu, Mahani memaksaku membuka daster itu dan kemudian memberikannya ke seorang perempuan. Emak bilang kalau wajah perempuan itu terlihat sangat jelas. Seandainya dia bertemu perempuan itu di dunia nyata, dia pasti masih bisa mengenali perempuan itu.
Kata orang, mimpi emak itu buruk artinya. Mahani akan berpaling ke perempuan yang di kasih dasterku itu.
Cuma mimpi. Walaupun kata emak itu bukan hanya kembang tidur, tapi sebuah pesan. Sungguh, itu sangat mempengaruhiku. Aku sangat takut apa yang ditakutkan akan terjadi. Aku takut kehilangan Mahani. Mahani, dengan segala kekurangan dan kelebihannya tetaplah sangat berarti buat aku. Saat semua orang meninggalkanku, dia ada di sampingku. Dia bukan orang yang romantis. Bukan pula lelaki yang manis. Dia seringkali membuatku sebal dengan segala tingkahnya. Bahkan kadang dia membuatku merasa tidak berarti. Tapi dia Bapak anak2ku. Dia yang ada pada masa2 terburuk dalam hidupku. DIA SUNGGUH BERARTI BUATKU.
Dengan mimpi Mak itu, apakah aku akan kehilangan dia? Dengan segala kebiasaan buruk Mahani yang telah luput beberapa kali, akankah aku benar2 kehilangan dia? Duh, I can't imagine if that dream going to be come true.

Saat ini aku berada jauh di bawah kepercayaan diriku. Tapi kupompakan semangat dalam diriku, bahwa manusia lahir dengan membawa takdirnya masing2. Dan Pada saatnya dia kembali hanya akan menjadi sendiri. Cuma sendiri. So, aku nggak boleh takut menjadi sendiri, karena nggak ada yang sejati. Semua kata tentang persahabatan, perkawanan, cinta dan kasih hanyalah sebuah omong besar. Hanya sendiri. Gak ada orang lain.

Sabtu, Mei 12, 2007

NOTE

N O T E : Medio 09 Mei 2007.
PERISTIWA : Mahani cium kening gw waktu gw mau berangkat ke Medan.
KOMENTAR : Sesuatu yang sebelumnya gak pernah terjadi. Uupfh... Jadi geli dan pengen ketawa sendiri. Di depan Mas eko pula dia cium aku. Wooow... Ada apa nih...??? Kok Mahani tiba2 jadi romantis??? Hhmmm... Just to wait and see, what will happen next...

Sabtu, April 14, 2007

Pemberian Terindah


Malam ini gw sedang beromantisme dalam diri sendiri. Dari semua orang yang pernah jadi pacar gw, cuma *** yang pernah kasih sesuatu ke gw. Sebuah Al Qur'an. Dulu, Al Qur'an itu sangat-sangat berarti buat gw. Bahkan hanya dengan melihat barang pemberiannya itu gw udah amat sangat bahagia banget. Sekarang, Al Qur'an itu buat gw sama aja dengan Al Qur'an lainnya yang gw punya.

Tapi gw juga masih punya kaos dari pacar gw yang lain. Bedanya, yang ini gak pernah kasih ke gw kaos itu. Barang itu gw temuin di lemari kostnya setelah *** bertugas di Jakarta. Sama, dulu setiap gw liat kaos perasaan gw berbunga-bunga. Dan setiap kali gw kangen... banget ma dia, gw akan pakai kaos itu. Terus perasaan gw jadi hangat... banget. Serasa dipeluk dia.

Sampai gw tau ternyata dah ada yang lain sebelum gw di hatinya. Tiba2 aja kaos itu jadi kaos yang paling jelek yang pernah gw liat sepanjang hidup gw. Kaos itu akhirnya jadi penghuni tetap bagian terdalam dan terbawah dari lemari baju di kost gw. Dan sekarang gw sendiri dah gak tau ada di mana kaos itu berada.


Kalau inget semua kenangan itu, ternyata barang2 milik orang yang kita cintai, pada saatnya akan menjadi barang pualing bernilai di dunia. Meskipun itu cuma sekedar barang biasa yang banyak banget dijual di pasar. Tapi, ketika moment cinta mencinta itu berlalu, balik lagi deh barang "klangenan" itu jadi barang yang nilainya sama dengan barang2 lainnya.


Hhhmm... Sekarang gw dah merried dengan orang yang kadang gw sendiri gak sadar kalo gw sayang dan cinta banget ma dia. Mahani gak pernah kasih gw barang yang khusus dia kasih untuk gw. Dia gak pernah beliin hadiah atau barang apa pun buat gw (kecuali daster dari Bali, itu juga karena gw ancam dia untuk beliin sesuatu buat gw dari Bali waktu dia tugas ke sana), even disaat2 spesial kayak ulang tahun gw atau our anniversary. Hehehe... Bahkan kadang dia lupa dengan moment2 spesial itu.


Sometimes, pengen juga siy suatu saat nerima surprise dari Mahani. Gw gak minta berlian atau barang mahal lainnya kok. But, anyway, that's my husband... And I've tried to be not disapointed. Karena setiap kali gw liat dua buah hati cantik kami, gw sadar kalo Mahani udah kasih gw dua permata yang paling berharga di dunia. Aisha Sukma Bening dan Aaliyah Cahyaning Buana.


Love You, Hon...

Hope we'll be forever together.

Berdua kita liat dua buah hati kita tumbuh dan melanjutkan garis keturunan kita.

Sampe ada suara kecil yang merdu memanggil kita Mbah Buyut...

Insya Allah...

Selasa, April 03, 2007

Big...big...Love...

Dah hampir satu bulan aku nggak ajak anak2 main ke rumah orang tuaku. Padahal jarak rumah kami dengan Mbahnya anak2 itu hanya 5 menit perjalanan dengan motor. Biasanya, entah hari Sabtu atau Minggu, hari2 aku dan Mahani gak ngantor, kami biasa ngajak Mbak Sasha dan Ade Ayha main ke rumah Mbahnya itu. Bahkan terkadang Mbak Sasha nggak mau pulang dan langsung nginap di sana. Kalo udah begini, biasanya Bapak atau Ibuku telpon ke rumahku dan menanyakan kabar kami sekeluarga. 'Apakah sehat semua, Mbak sama Ade lagi ngapain? Kok nggak ke rumah Mbah? Gak ada apa2, kan?' dan pertanyaan-pertanyaan peduli yang lainnya.
Sebenarnya, gak ada yang terjadi di rumah kami. Dan bukan persoalan yang sulit sebenarnya kalau aku dan Mahani mengantar anak2 ke rumah Bapak-Ibu. Tapi, memang sebulan ini banyak hal yang terjadi dan cukup menguras enargi, baik tenaga maupun pikiran. Jadi rasanya nggak kepengin keluar rumah kalo dah hari libur. Sabtu dan Minggu lebih banyak kami habiskan di rumah. Bercanda bareng anak2, di rumah aja.
Kemarin, lagi-lagi Bapak telpon. Kangen sama cucu2, katanya. Duh, mencelos juga hatiku jadinya. Jahat banget aku, ya... Dah satu bulan aku nggak menengok mereka dan membawa anak2ku yang bisa jadi penghiburan buat mereka. Padahal nggak sulit buatku dan Mahani untuk mengajak mereka ke rumah Mbahnya.
Kemarin, KPR untuk rumah kami di Cilebut di setujui BNI. Pertama yang kuingat setelah kasih tau Mahani adalah mengabarkan kepada orang tuaku berita yang buatku adalah berita gembira. Pagi tadi, kubawa berita ini ke mereka. Nggak ada kesal di wajah mereka menyambut kedatanganku. Bahkan mereka menyambut beritaku dengan wajah sumringah dan gembira. -walaupun aku tau, bahwa dengan keputusanku untuk mengambil kredit perumahan itu, maka bantuan untuk kuliah adikku (saat ini adikku mau mengambil spesialisasi apotekernya di UI) yang biasanya aku berikan kepada mereka tiap bulannya nggak akan bisa lagi aku berikan. Yup, sejak Bapakku pensiun, aku membantu sedikit untuk keperluan kuliah adik bungsuku.
Ketulusan mereka kembali menyadarkan aku. Bahwa nggak ada yang melebihi ketulusan kasih dari kedua orang tua kita. Kalaupun sesekali waktu ada amarah yang terucap dari mereka, nggak akan mengurangi kadar ketulusan kasih dan sayang mereka buat anak2nya. Duh, kapan ya aku bisa memberikan kebahagiaan buat mereka dan melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan hati mereka.


"May God Bless me to do all good things for my parents before their end of days... Ameen..."

Rabu, Februari 14, 2007

Banjir... Banjir... Banjir...

Gile, Man, gw kebanjiran...
Peristiwa baru dalam hidup.
Kaget, sebel, sedih, lucu...
Kok bisa juga ya, gw kebanjiran...

Tanggal 02 Februari 2007, gw baru balik dari Pontianak, setelah selama seminggu ada acara di sana. Mahani sms dah dari jam 04.30 WIB. Doi ngabarin secara up to date keadaan di rumah...

SMS, jam 04.35 WIB : "Wok, rumah kebanjiran. masuk dalam rumah sedengkul"
SMS, jam 06.28 WIB : "Banjirnya tambah tinggi, sedada. Anak2 ngungsi di rumah mbahnya"

02 Februari 2007, kurang lebih 07.00 WIB, kami bersiap pulang ke Jakarta. Pesawat yang akan kami tumpangi, rencananya akan berangkat jam 10.50 WIB. Ternyata keberangkatan di delay, karena cuaca Jakarta tidak memungkinkan untuk landing. Menurut siaran TV, Jakarta sudah berubah jadi kolam besar. Kontak telpon selalu coba dilakukan. Sempat cemas juga waktu omongin jalan pulang dari bandara. Kalo semuanya dah ketutup banjir, lewat mana, yaaa...??? Duh, kalo nginap lagi di hotel bandara, gak bisa langsung ketemu orang rumah... Padahal dah cemas banget ma keadaan anak-anak. Tapi kalo pulang gak bisa lewat juga, ya gimana dunk... Menunggu 3 jam, tanpa keluh kesah karena cemas. Jam 13.00 WIB, pesawat take off dari Pontianak.

Untungnya, sampe di Jakarta kami masih nemukan jalan untuk bisa sampai rumah masing2. Walaupun air banjir sempat masuk ke dalam taksi. Gak langsung pulang, gw ke tempatnya bokap nyokap. Alhamdulillah, anak-anak selamat dan sehat semua.

03 Februari 2007, cuma Mahani yang ke rumah kami. Sementara gw ma anak2 masih dirumah bonyok. Airnya masih belum surut. 04 Februari 2007, gw maksa mau liat rumah sama Mahani. Ternyata dah surut. Duh, menyedihkan liat keadaan rumah itu. Kotor, bau, semua barang tidak pada tempatnya. Saat itu juga, gw ma Mahani langsung bersih2...

Sampai hari ini, keadaannya dah lumayan... Dah cukup beradab untuk di tinggalin. Dan kami sekeluarga juga dah pulang lagi.

Banjir... Banjir... Salah siapa, kenapa??

Rabu, Januari 17, 2007

17 Januari 2007

Hari ini rasanya lemes banget. Rasanya dari kemarin gw kurang tidur. Kemarin, Mahani ma Sha mau berangkat ke YK karena mau jemput Bapak mertua yang pulang haji. As usually, gw selalu gelisah kalo Mahani mau pergi ke luar kota. Selalu begitu. Hasilnya jadi gak bisa tidur. Semalam juga begitu... Gw pulang jam 20.30 WIB sampe rumah. Ade dah bobok. Mak sama Mar lagi nonton TV. Ngobrol2 sampe jam 22.00 WIB. Terus mandi dan masuk kamar, tiduran di samping Ade.

Balik kanan, balik kiri... Badan rasanya capek sekali. Tapi mata kok nggak mau lelap juga... Kuping gw jadi sangat2 sensitif dan dengar semua suara, sampe suara lirih bisikan serangga di kebun depan rumah yang kebawa angin ke dalam kamar gw. Gw liatin Ade bobok. Matanya, hidungnya yang bulat, pipinya yang gembil, bibirnya yang sedikit terbuka... Hhhmm... sungguh karunia yang indah... Puas liatin Ade, masih belum ngantuk juga. Gw ambil HP. SMS *** yang ternyata baru pulang kantor dan mau langsung tidur. Ya sudah... Terus sms *** yang ternyata juga baru pulang 'dari bertemu kawan'. Sempat telpon2an sekitar 10 menit. Hanya cerita ringan keseharian dan saling ucap kata kangen. Setelah itu saling ucap selamat malam dengan janji, dia akan telpon kalo besok jadi makan siang bareng. Huuaah... mata dah mule ngantuk. Liat HP, jam dah 00.42 WIB. Tapi pikiran masih aja main2 di dunia antah berantah. Ssstt... Gw paksa pikiran gw untuk diam dan berusaha menikmati setiap suara yang gw dengar. Desau angin di luar, desah berputar kipas angin di kamar, suara serangga2 malam di bawah pohon bambu di kebun depan, lolongan anjing tetangga, suara motor satpam yang keliling komplek berjaga2... Sampai akhirnya gw gak ingat apa2 lagi...

Tepukan tangan kecil di pipi dan sayup adzan Subuh, mau gak mau memaksa mata gw untuk terbuka. Masih ngantuk, tapi akhirnya bangun juga. Mandi, terus sholat Subuh. Drrrt... HP di meja kamar bergetar. Ternyata SMS dari si Bos yang ada di Malaysia... Duh, pagi2 dah instruksi... Ternyata si Bos minta diadakan pemantauan soal UU Kewarganegaraan dan UU Adminduk dan Capil. Artinya, gw harus siapin TOR dan RAB untuk kegiatan itu... Jam 06.30 WIB, siap meluncur ke rumah Mbak Rima. Biasa, nebeng kalo Mahani ke luar kota...
Jam 08.25 sampe kantor. Uuugh... badan rasanya gak enak banget. Mungkin akibat kurang tidur dari kemarin. Praktis, dua hari ini gw tidur hanya 2-3 jam setiap harinya...
Sekarang, saat nulis ini, jam 13.42 WIB, jam di kompie... Still feel not good... Seandainya bisa tidur di kantor... Hhhmm...

Kamis, Januari 11, 2007

Semalam Gw Bercinta

Semalam gw bercinta. Lembut dan hangat. Percintaan semalam menjadi istimewa, karena beberapa waktu lalu, percintaan yang dilakukan hanyalah sekedar pertemuan kelamin untuk pelepasan libido. Semalam, apa yang terjadi -setidaknya yang gw rasakan- bukan hanya itu. Ada rasa cinta, keindahan dan kenikmatan yang bukan hanya ragawi, tapi juga di dalam jiwa ini.
Malam tadi, segenap rasa yang belakangan ini sempat menjadi hambar telah muncul kembali seperti adanya saat pertama dia hadir di hati gw. Gak tau apa yang jadi penyebab dan pemicunya. Tapi gw yakin bahwa rasa itu, sejak pertama dia datang gak akan pernah hilang. Karena dia akan selalu gw jaga, entah dengan cara apa.
Semalam gw bercinta. Percintaan yang tidak sekedar pertemuan kelamin, namun juga pertalian rasa, jiwa dan hati. Malam itu, gw cari yang tersembunyi dalam mata Mahani. Mata dan hati itu masih buat gw. Dan kenikmatan yang selama ini hanya menjadi milik raga, malam itu juga telah menjadi milik jiwa. Saat sampai pada puncak dari segala rasa, sempurna sudah sebuah ikatan hati. Simpul jiwa yang semoga tidak akan pernah menjadi kendur selamanya.
I LOVE YOU, HONEY...

Jumat, November 24, 2006

The Apple of My Eyes...


Setiap pulang kantor, dua bocah cantik datang dengan berlari, langsung memeluk dan menggelayuti tangan2 gw. Segar, harum tubuh mereka seketika menghilangkan penat badan gw. Celoteh dan tawa riang mereka yang bercerita, seketika menghilangkan segala resah dan gundah yang ada di hati gw karena berbagai sebab setelah seharian gw di kantor.

Aisha Sukma Bening, si sulung, biasanya langsung bercerita tentang sekolah, teman2nya, pelajarannya dan adiknya. Sementara Aaliyah Cahyaning Buana, si kecil yang baru berumur 18 bulan langsung menabrak masuk dalam pelukan dan gendongan gw. Dengan bawaan gw dari kantor yang belum sempat gw simpan di tempatnya dan masih lengkap dengan jaket dan sepatu gw, gw dudukkan mereka lagi di depan TV. Sambil membuka jaket dan sepatu, gw dengarkan semua cerita mereka. Ah, indahnya dunia gw pada saat2 itu... Setelah mencuci kaki dan tangan gw, gw ma Mahani langsung duduk dekat mereka. Mereka pun langsung kembali menggelendoti tubuh gw. Kecerewetan mereka belum berhenti. Masih terus... bercerita. Pada saat itu, Mbak Sasha, Ade Ayha dan nggak ketinggalan 2 pengasuh mereka, si Emak dan Mar seolah2 berlomba menceritakan kejadian2 di rumah selama gw ma Mahani di kantor. Gitu juga gw dan Mahani. Kami saling berganti menceritakan kejadian2 apa yang kami alami di kantor. Kejadian kayak gini, biasanya berlangsung sampe jam 7 malam. Jam 7 malam adalah jam tidur buat Ade Ayha dan jam belajar buat Mbak Sasha.

Saat2 yang paling gw suka lainnya adalah saat mereka tidur. Melihat mereka pulas dalam tidurnya, memandangi wajah polos mereka selalu nimbulin rasa haru dan bangga atas mereka. Betapa gw sangat bersyukur dengan karunia indah yang diberikan ke gw. Alhamdulillah, puji Tuhan, mereka anak2 yang sehat dan cerdas. Merekalah harta gw yang gak akan tergantikan dengan apa pun. Semoga gw bisa merawat dan membimbing mereka sampai mereka besar. Amien...

Kamis, Oktober 12, 2006

Ketabrak TIKUS...

Kemarin sore, Ade Ayha ketabrak tikus... Tikus nakal itu nabarak kaki Ade waktu dia lagi di suapin sama Mak di luar rumah. Ade langsung kaget dan mungkin sedikit shock, karena seketika, badannya langsung panas. Setelah ketabrak tikus itu, Ade sama sekali nggak mau turun dari gendongan. Padahal yang namanya Aaliyah Cahyaning Buana itu sama sekali nggak bisa diem, kecuali kalo tidur. Rasa ingin tahunya yang besar, bikin dia selalu eksplor tentang segala sesuatunya. Bahkan pernah suatu hari, dia sudah di atas bangku, sambil menjangkau steker listrik. Waduh, sejak saat itu, nggak pernah gw bolehin pengasuh2nya buat ninggalin dia sendirian. Termasuk saat gw ma Mahani di rumah. Kami selalu gantian buat ngikutin Ade Ayha kemana pun yang dia mau.
Kemarin sore, Ade Ayha ketabrak tikus... Sejak saat di tabrak itu, apapun yang ditunjukin Mak, dia nggak mau tahu... Bahkan saat Mak nyetelin VCD Campur Sari kesenangannya dia. Lagu Kopi Lampung dan Mendem Wedo'an karangan Didi Kempot adalah lagu kesenangannya. Nggak siang, nggak malem, nggak pagi bangun tidur, Ade sangat menikmati lagu2 itu sambil minum susu di depan TV. Awalnya, waktu Mak cerita kalo Ade seneng lagu-lagu Campur Sari, gw gak gitu percaya... Tapi pernah suatu pagi, dia langsung gandeng tangan gw ke luar kamar, masuk ruang TV, ngambil VCD Campur Sari kesukaannya dia, dan di serahin ke gw... Hahaha, dia minta disetelin VCD itu. Bener aja, setelah gw setelin, lagu pertama, dia geleng... Maksudnya bukan lagu itu... Lagu kedua, masih geleng, lagu ketiga, juga geleng. Saat lagu keempat, dia langsung joget2 ngikutin irama lagu... And you know, lagu apa itu? Mendem Wedo'an !!! Huahaha... Pagi itu perutku kayak digelitik seribu semut saking gelinya...
Kemarin sore, Ade Ayha ketabrak tikus... Kebetulan, kemarin, gw dan Mahani pulang malem, karena ada rapat sekalian Bukber di rumahnya Dita. Waktu Mak cerita kalo Ade ketabrak tikus, cerewetnya gw langsung keluar. Berbagai pertanyaan seputar peristiwa itu langsung keluara otomatis dari mulut gw. Pertama yang gw tanya, 'Ade digigit nggak?' Terus disambung pertanyaan lainnya, macam 'jatuh nggak Ade saat itu?', 'panasnya mulai kapan?', 'berapa derajat panasnya?', dsb... dsb... Mak menjawab semua pertanyaan gw itu dengan sabar... Bahkan di tambah dengan informasi2 lainnya yang nggak gw tanyain, macam 'Ade nggak mau dengar lagu campur sari', 'nggak mau turun dari gendongan', dsb...dsb...
Setelah tanya jawab selesai, gw cuci tangan dan kaki, baru masuk kamar. Gw pegang dahinya Ade, Alhamdulillah... Seketika gw ucap syukur... Dah nggak panas lagi... Gw perhatikan raut mukanya... Nggak gelisah, Alhamdulillah... lagi2 gw bersyukur... Dan malam itu, kami tidur dengan tenang, karena Ade nggak rewel...
Tadi, jam 5 pagi, gw dibangunin Ade dengan caranya yang biasa... Mukul2 muka gw dengan tangan kecilnya... Seketika gw bangun dan langsung gw peluk dia... Dia nunjuk2 buku National Geography kesenangannya yang sengaja gw simpan di samping tempat tidur... Kami liat2 gambar itu bareng2... Saat itu, suhu tubuhnya Ade masih normal... Setelah puas liat2 buku, diambilnya botol susunya yang udah kosong dan tarik tangan gw ke arah pintu kamar. Tandanya, dia minta dibuatin susu lagi... Kami keluar kamar. Ke ruang makan, bikin susu, terus langsung ngajakin tiduran di ruang TV. Seperti biasa, dia minta disetelin campur sari. Saat itulah gw pegang dahinya mulai panas lagi... Langsung gw bangunin Mahani, "Hon, Ade panas lagi tuh. Bawa ke dokter aja, yuk..." Mahani langsung bangun dan langsung pegang juga dahi Ade. Setelah yakin, dia mengiyakan ajakan gw.
Pagi itu, saat Ade panas karena shock ketabrak tikus, setelah Mahani anter Sasha sekolah, gw, Adhe dan Mahani ke dokter dekat rumah. Dokternya bilang Adhe nggak papa... Hanya kaget... Setelah kasih resep, kami pulang. Sampe rumah, panasnya dah turun lagi. Langsung gw suapin si Adhe. Wah... makannya banyak banget... Mungkin laper, karena kemarin sore, setelah di tabrak tikus itu, maemnya gak banyak... Setelah makan, minum obat dan tidur lagi di depan TV, sambil denger campur sari... ;p Dah gak panas lagi, dan bangun tidur dah kembali seperti biasa lagi... Eksplor ke mana-mana, joget2 dan ngoceh dengan bahasa bayinya yang kami semua gak ngerti... Fhiu...
Catatan : Pagi ini, kami mendapati, jebakan tikus yang kami pasang di taman dalam rumah mendapatkan 2 ekor tikus di dalamnya. Kami coba hilangkan traumanya Adhe dengan menunjukkan tikus itu. Awalnya dia takut dan menangis... Kamudian Mahani bilang kalo tikusnya udah di tangkep dan gak bisa ke mana2... Lama2 dia mau liat tikus itu, dan gak nangis lagi...

Senin, Oktober 09, 2006

MY 6th ANNIVERSARY...

Tanggal ini, 6 tahun yang lalu, peristiwa besar terjadi dalam hidup gw... GW MENIKAH... Suatu peristiwa yang gw tau punya konsekwensi akan merubah beberapa tatanan dalam hidup gw. Gimana gak berubah? Saat gw memutuskan untuk menikah, gw sudah memperbolehkan orang lain untuk ikut mempengaruhi apa yang mau gw kerjakan dan pilihan2 hidup gw...
Tanggal 9 Oktober 2000, gw putuskan untuk jadi yang pertama dan yang terakhir. Artinya, gw harus siap mengkompromikan beberapa hal sama orang yang menikah sama gw itu. Tahun pertama sampe tahun ketiga adalah tahun2 tersulit yang harus kami lalui. Nggak gampang membicarakan dan mendiskusikan mengenai semua hal dengan satu orang yang hanya dia-dia aja... Pada tiga tahun pertama ini, pernikahan gw benar2 diuji. Dari mulai persoalan orang tua, ekonomi, sampe orang ketiga... Saat itu, saat ngalamin semuanya, berat... banget... Maunya marah dan ngajakin berantem terus... Tapi itulah, semuanya bisa selesai dengan komunikasi (emang hebat deh yang namanya komunikasi itu, baik yang verbal maupun non verbal ;p).
Gak kerasa dah 6 tahun... Setahun pertama, Aisha Sukma Bening hadir sebagai penguat ikatan. Empat tahun kemudian, Aaliyah Cahyaning Buana lahir sebagai pelengkap bahagia. Dua buah hati yang sama-sama, gw dan orang yang menikah ma gw sayangin dan cintai... Merekalah harapan kami dan jadi perekat ikatan yang semoga bisa "sampai maut memisahkan". Amieen... Gw bersyukur untuk tawa dan tangis yang gw alamin selama 6 tahun ini... Gw bersyukur untuk bahagia, kecewa dan sedih yang pernah ada selama 6 tahun...
Semoga kasih sayang, bahagia dan cinta selalu ada dalam rumah kami (gw dan orang yang menikah ma gw). Bahagia, kasih sayang dan cinta buat semua... Terima kasih, ya Allah, Alhamdulillah... (Love U, Hon... Happy Anniversary, Semoga langgeng, ya...)

My 6th Anniversary..

Gak kerasa,dah 6 tahun gw nikah...
Banyak banget yang dah gw alamin dalam perkawinan ini.
Ketawa, nangis, ngambek...
Semuanya gw nikmatin...
Apalagi ketambahan 2 cindil kecil
yang cantik dan lucu2...
Gw bersyukur atas semuanya...
Untuk tawa yang gw kumandangkan
Untuk tangis yang gw curahkan
Gw bersyukur...
Untuk suami gw yang galak, gak romantis,
tapi perhatian dan sayang ma gw
Gw bersyukur...
Untuk anak2 yang cantik, cerdas dan lucu2...
Gw bersyukur...
Untuk 6 tahun yang berhasil gw lampaui... Terima Kasih, Ya Allah...
Alhamdulillah...