Kamis, Agustus 28, 2008

Miskin VS Obesitas

Meningkatnya angka anak kurang gizi seiring meningkatnya obesitas pada dasarnya disebabkan oleh satu hal. Tingkat biaya hidup yang semakin tinggi. Pasti pada nanya, "Kok bisa???". Aku jawab,"Iya, Bisa".

Gini, kalo untuk masalah anak kurang gizi karena tingkat biaya hidup yang semakin tinggi, pasti udah pada tau dan bisa dijelaskan secara matematis. Tapi tingkat obesitas? Kok sepertinya kontradiktif, ya... Tingkat biaya hidup yang semakin tinggi, apa-apa serba mahal, tapi kok malah makin gemuk dan gendut (yang seringkali diidentikkan dengan kemakmuran seseorang)? Hhhmm...

Seiring semakin majunya jaman dan juga ya itu tadi, biaya hidup yang makin tinggi, maka makanan sehat juga akan semakin mahal dan menjadi suatu kemewahan tersendiri. Misalnya makanan organik. Pasti harganya lebih mahal daripada yang biasa aja. Tingkat biaya hidup yang tinggi ini juga memicu tingkat stress menjadi lebih tinggi juga. Dalam beberapa kasus (dari pengalaman aku sendiri dan juga beberapa temanku), semakin banyak orang yang melarikan stressnya ke makanan. Semakin stress orang itu, maka akan semakin sering ngemil. Di kaitkan dengan semakin mahalnya harga makanan sehat itu tadi, maka kebutuhan ngemil akhirnya dilarikan ke makanan-makanan murah yang terjangkau kantong yang nota bene jauh dari standarisasi makanan sehat dan bergizi seimbang. Gorengan sebagai salah satu alternatifnya. Selain itu, dengan meningkatnya biaya hidup, maka akan semakin mendorong orang untuk melakukan segala hal untuk bisa memenuhi biaya hidupnya. Kerja... Kerja... Kerja... Sehingga kebutuhan olah raga juga semakin terabaikan, karena tidak ada waktu untuk sekedar membakar lemak atau merenggangkan otot tubuh.

So kesimpulan dari teoriku adalah: karena tingkat biaya hidup yang tinggi --> stress --> orang banyak ngemil makanan murah yang terjangkau kantong + gak punya waktu olah raga --> Obesitas. Hhhmmm... . Hehehehe...

Selasa, Agustus 05, 2008

Dearest Honey...

Aku ingin menuliskan sesuatu. Tapi lagi-lagi pikiranku tercekat di antara tetimbunan hati. Penat. Seakan aku tak mampu lagi untuk bisa menjejakkan langkah di atas pertiwi. Malu. Berat beban yang tertumpu pada kedua pundak dan kakiku telah membuat aku malu akan ketidak berdayaanku menghadapi dunia.

Entah apa yang harus aku buat lagi. Mungkin memang aku bukan seseorang yang baik dan sempurna untuk bisa selalu menjadi penyejuk hatimu. Tapi aku manusia. Aku bukan malaikat yang tidak mempunyai hati. Selalu ada begitu banyak keluh yang terlontar dari mulutku. Ya... ya... Lagi-lagi mungkin salahku... Tapi saat semua ruang untuk bisa mengerti dan tau apa yang ada dalam hatimu sudah aku jelajahi, tolong beritahu aku, apalagi yang harus aku lakukan. Aku tidak akan bilang ada begitu banyak hal yang sudah aku lakukan. Bukan hanya untuk menjaga bahtera yang sudah kita bangun 8 tahun, tapi juga demi dua malaikat kecil yang sama-sama kita kasihi dan sayangi.

Hon, yang aku mau kamu juga mengerti... Aku tidak akan sanggup mengawal semuanya sendiri. Aku selalu butuh kamu. Adakah kamu masih butuh aku??

Kamis, Maret 13, 2008

Tidak Berharap Pada Manusia...

Setiap manusia lahir sendiri dengan segala yang ada di dirinya. Jadi ngapain juga takut akan kesendirian. Dalam tempat ramai sekalipun, manusia itu tetap sendiri. Dia adalah dirinya. Sendiri sebagaimana dirinya terbentuk. So, yup, kalau ada masalah, jangan pernah berharap lagi untuk adanya seseorang yang mau memberikan bahu untuk mendengarkan segala uneg-uneg yang dirasa. Lebih baik telan dan rasakan saja semuan. Sendiri. Ya sendiri.

Mungkin kontradiktif dengan tulisan sebelumnya tentang sahabat. Tapi ya yang namanya sahabat adalah juga manusia yang hidup dalam wadagnya sendiri juga. Yang mau diapakan keadaan wadag dan hatinya juga terserah mereka. So, sendiri, mungkin lebih baik. Sekalian mengukur hingga sebatas apa diri sendiri bisa menampung semua beban dan bahagia yang dipunya. Paling-paling cuma keliatan kayak orang "koleng" ato sedikit bengong saat semua hal yang negatif melintasi lajur2 otak membentuk slide prasangka yang kemudian menjadi blur dengan kepositifan pikiran yang coba untuk dimunculkan. Hahahaha... Manusia... Manusia... Makhluk yang paling antik yang pernah ada di bumi. Manusia... manusia... manusia... Yang akau adalah menjadi salah satunya.

Aku jenis manusia yang terbentuk dengan sendirinya menjadi aku. Ada faktor luar, memang. Tapi segala material yang ada dalam diriku adalah punyaku. Aku yang merasakan dan mencoba untuk mengerti serta memilah-milah saat segala yang berasal dari luar coba menghampiriku. Segala rasa, segala raba akan diolah menjadi sesuatu oleh material yang aku punya. Hasilnya, bisa jadi senyum atau tangis atau marah, tergantung warna dari energiku.

Gitu juga dengan manusia lainnya. Maka, kadang orang gak akan tahu, saat mana seseorang bisa tertawa atas segala kekurangannya atau saat orang menangis karena segala yang dia punya. HAH! Manusia... ya manusia... Yang kadang bahkan seringkali lupa bahwa dalam kesendiriannya dia telah diciptakan. Yup... d i c i p t a k a n. Artinya, sebenarnya sendiri dalam yang tampak, tapi selalu ada yang siap mendengarkan dan menerima segala keluh bahkan yang terdalam. Ya... Dialah yang akan memberikan jalan dan petunjuk untuk semua resah dan gelisah. Bahkan memberikan jawab dengan jalan yang kadang kau sendiri tidak akan pernah tau... ALHAMDULILLAH...

Jumat, Februari 29, 2008

Pesimis VS Optimis

"Have you ever feel optimistic and pesimistic in one moment? Coz I do now. "

Yup, dalam saat yang bersamaan ini aku merasakan dua hal yang saling memunggungi tersebut. Rasa pesimisku datang dengan keadaan hidupku yang menurutku jalan di tempat dan tidak kunjung ada perubahan. Ya... Mungkin tipis sekali rasa ini. Tapi seperti kegelapan malam yang perlahan turun di batas cakrawala, kegelisahan yang timbul dari rasa ini perlahan mulai merasukiku. Mengisi cawan hatiku dengan memundurkan dan menggelapkan segala ingatanku tentang semua hal yang baik yang ada. Rasa yang tidak enak. Membuatku serba salah dan semua menjadi salah dalam pandangan mataku. Aku berada pada titik terendah dalam record kemanusiaanku.
Kemudian, aku menemukan sesuatu. Kata-kata bijak yang hadir dalam bentuk buku-buku. Dalam tertralogi karya Andrea Hirata yang baru aku baca sampai buku ketiganya yang berjudul Edensor, mengajak manusia untuk tidak takut memeluk mimpi-mimpinya, bahkan sampai yang paling mustahil terwujud sekalipun. Karena takdir manusia tidak teraba dan tidak terbaca. Dengan harapan, kerja keras dan doa tulus dari orang-orang yang menyayangi kita, semua hal bisa saja terlaksana. Ya... ya... Buku-buku ini memotivasi aku bahwa akan selalu ada harapan, walaupun bagai pelita di tengah badai topan, akan selalu ada harapan. Hhhmmm... Indahnya kata-kata yang baru aku tulis barusan. Tapi setiap huruf dari kata-kata HARAPAN itu akan aku ukir dengan tinta emas dalam hatiku.
Harus aku akui, sungguh sulit untuk menjadi manusia yang benar dan baik. Kalau benar, bisa jadi cara yang digunakan menjadi tidak baik untuk orang-orang tertentu. Dan kalau kita ingin selalu berbuat baik, belum tentu juga itu adalah mengenai sesuatu hal yang benar. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana untuk bisa berbuat benar dengan cara yang baik. Ah, kalau berpikir dengan cara seperti ini, sungguh jadi berat rasanya isi kepalaku. Ternyata sungguh sulit untuk berjalan di dunia ini sebagai orang yang benar dan baik, karena terkadang situasi mengharuskan kita untuk memilih. Menjadi benar atau menjadi baik. Hhhmmm...
Duh... Duh... Aku menjadi ruwet dengan isi kepalaku sendiri. Jadi mungkin biarlah aku seperti ini. Inginnya aku janjikan diriku sendiri untuk bisa berbuat benar dan baik. Sulit. Tapi mungkin bisa aku coba. Ya... Ya... Aku harus mencoba. Dengan harapan yang masih bisa ku gantungkan di langit cerah anganku...

Kamis, Desember 06, 2007

Sahabat...

Beberapa waktu yang lalu, kepala ini rasanya penat dan sarat sekali dengan segala permasalahan hidup yang mungkin sangat biasa dirasakan oleh orang lain. Entahlah, mungkin posisi mentalku yang saat itu memang sedang berada di bawah, sehingga semua mata persoalan itu hanyalah tertuju padaku. Saat kepala lebih sering tertunduk menahan beban, seorang kawan lama datang mengunjungiku di kantor.

Aku tumpahkan saja semua yang memenuhi isi kepalaku. Satu persatu keluar dalam bentuk curhat panjang. Dia hanya terdiam. Mendengarkan sampai semua kisahku tuntas. Setelah semuanya habis dan kurasakan sedikit plong di kepala dan dadaku, dia mulai bicara. Dia, sahabatku itu bicara bukan mengenai apa yang ingin aku dengar. Saat itu, yang kuharapkan adalah kata2 simpati yang menghibur dan bisa menenangkan perasaanku. Dengan runtut, sambil sekali2 mengingatkanku atas apa yang sudah aku katakan dan sudah pernah aku lakukan (yang dia ketahui) dia mulai mengingatkan dan memposisikan kembali permasalahanku pada porsinya.

Ajaib. Setelah mendengarkan tuturannya, apa yang selama ini aku rasakan mengganjal dan memberati langkahku seperti tersistematisir dalam kepalaku. Seperti komputer yang baru di format ulang, tiba2 aja aku tau apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu menurut skala prioritasnya untuk menjawab sekian banyak permasalahanku. Satu hal lagi, dia juga menguatkan dan mensuportku, sehingga kembali aku dapatkan rasa percaya diriku setelah sekian lama aku merasa sebagai orang termalang di dunia. ;p

Dari semuanya, yang mau aku bilang adalah, dirimu, sahabat terbaik yang aku punya saat ini. Dirimu gak cuma jadi teman yang baik di saat senangku, tapi kamu dah buktiin bahwa kamu masih tetap terbaik di saat susahku. Terima kasih untuk semuanya, ya... Best Friend Forever, oke? Aku sayang dirimu...


"Nggak mudah menyebut kata Sahabat. Karena itu harus dibuktikan terlebih dahulu.
Tapi kamu memang sudah membuktikan itu ke aku, Lik. Thanks..."

Selasa, November 27, 2007

AKU, YA AKU !!!

Tolol. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Seperti terpaku pada waktu. Dalam kepalaku, hanya ada lukisan kisah yang telah lalu. Aku gak mau beranjak.

Bodoh. Kata itu juga sangat tepat untuk aku saat ini. Yah, buat apa aku terpaku dalam segala asa membuai yang tidak akan pernah terwujud. Memikirkanmu, membaca semuanya lagi tentangmu dan mengingat segala indah yang tercipta bersamamu hanya membuat aku terhenti. Dalam kepala ini serasa penuh kabut yang semuanya beraroma dirimu. Damn!!

No... no... no... Aku tidak sebodoh dan setolol itu. Kalau itu yang kamu mau, silahkan. Kamu juga punya hak untuk menentukan apa yang akan kamu lakukan. kamu juga boleh benci aku, seperti aku yang pernah jatuh cinta kepadamu.

Akan kuangkat kepalaku tinggi-tinggi... Aku masih punya segala yang tidak kamu punya. Aku masih tetap akan berjalan di atas kedua kakiku dengan segala kemampuanku. Aku tidak akan kalah karena rasa sayangku untukmu. Aku tetap akan berjalan dan berlari sebagai aku. Aku yang bebas dengan isi kepala dan hatiku.

Rabu, November 21, 2007

Gundah

Ijinkan aku berteriak
Teriakan yang keras dan sanggup menghilangkan gundah dalam hatiku
Seperti takkan ada lagi ceria
Entah sampai kapan batas ini akan dapat membendung

Aku ingin bersandar
Sangat ingin bersandar dan melupakan semua yang harus dilupakan

Ingin berlari
Sangat ingin berlari
Tapi kaki ini seperti sulit untuk digerakkan
Akupun tak tau arah mana lagi kumenuju

Aku masih butuh dirimu
Selalu butuh dirimu
Sebagai cawan besar penampung gelisahku

Sebuah Manusia

Pelangi dalam hatiku
bersinar kelam dalam warna warna yang suram
Tapi tetap.
Lengkungnya akan selalu ada dalam senyumku

Kepenatan dalam langkahku memerlukan penopang
Topangan baja berbalut beledu bagi jiwaku yang rapuh

Aku sombong
Kepongahan dalam sukmaku tak dapat ku tolerir lagi

Hanya sebuah manusia
Setiap lengkung senyumku membalut luka bagi asaku

Sampai saatnya matahariku menghapus jejak pelangi kelam
Akan selalu kunanti saat itu
Sampai asa tidak lagi meninggalkan luka

Dan aku tetap dan selalu akan tersenyum

Senin, September 24, 2007

AKU CINTA PADAMU, TUHANKU...

Beberapa saat ini aku kembali dihadapkan pada kenyataan hidup yang sejati. Bahwa manusia diciptakan itu bukan tanpa problem. Bahwa seberapa berat problem itu adalah kesanggupan dari manusia itu untuk menanggungnya. Kadang, apa yang aku punya dan aku rasa saat ini sangatlah berat. Tapi, saat aku dihadapkan pada problem hidup orang lain, aku masih sangatlah bersyukur dengan apa yang aku terima. Yups, segalanya kubiarkan sesuai dengan KehendakNYA. Kupasrahkan segalanya...

Allah Yang Maha Baik, aku tahu kalau Kau tidak akan memberikan persoalan yang aku tidak sanggup menanggungnya. Saat tubuhku letih, jiwaku penat dan otakku terhenti, kumohonkan bantuanMu untuk sedikit kusandarkan permasalahanku. Bantulah aku untuk menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Dan semoga menjadi baik dan membawa kebaikan pada akhirnya. Allah Tuhanku... Aku tau Kau selalu dan selalu ada untuk menghibur dan memberiku kekuatan. Biarkan aku datang dan memelukMu. Mendekap pasrah dalam keheningan dan kebisuan jiwaku. AKU CINTA PADAMU, TUHANKU...

Rabu, September 05, 2007

Aku Sudah Berdamai dengan Hatiku

Belum lama berselang, aku sulit berdamai dengan hatiku, terutama yang berkaitan dengan masalah perasaanku denganmu. Kemarin, masih ada rasa gak rela harus kehilanganmu secepat dan setragis ini. Bukan ini yang aku mau. Tidak saling berkabar, bahkan tidak lagi saling mengenal. Harusnya aku marah karena apa yang kamu lakukan itu sangat melukai harga diriku.

Bukankah dari pertama sudah aku jelaskan bahwa aku tidak inginkan lebih. Aku jatuh cinta, ya. Tapi bukan untuk memiliki kamu atau dimiliki kamu. Karena aku punya seseorang yang lebih berhak atas diriku dan aku juga tidak pernah punya keinginan untuk jauh apalagi sampai meninggalkan dia. Aku sangan mencintai dia.

Mimpiku yang indah tentangmu juga sudah pernah aku ceritakan. Piknik bersama 2 keluarga yang bersahabat. Saling bermain dan bercanda dengan anak2 dan pasangan kita masing-masing. Pasti seru, mengasyikkan dan menyenangkan.

Sekarang, aku sudah tidak lagi berharap banyak dalam hubunganku denganmu. Jangankan sebagai sahabat yang saling menyayangi dan menghormati. Sebagai temanmu, sekarang aku tidak lagi berharap. Tapi aku mau kamu tau kalau aku tetap menyayangimu. Aku tetap akan selalu bercerita padamu tentang aku, dan semua aktivitasku. Aku gak mau peduli, walaupun dirimu gak akan pernah merespon semua yang aku ceritakan kepadamu. Aku hanya ingin dirimu mengingatku dan mengingat semua kenangan manis yang pernah ada, walaupun bagimu mungkin tidak seberapa. Aku juga akan selalu berdoa untukmu. Hanya yang terbaik yang Dia berikan untukmu. Semoga kamu temukan bahagiamu, Kung... Amien...

Kamis, Agustus 23, 2007

Selamat datang lagi, Hujan...

Lagi, hujan mulai menampakkan wajah cerianya di jendela kamarku yang basah. Bau tanah basah selalu memberikan rasa damai dan segar dalam hatiku. Semakin romantis. Beratnya beban yang saat ini sedang menggunung sedikit teredakan karena alunan merdu rinainya yang mengetuk setiap senti muka bumi.
Kulihat, kupandang dari halaman rumahku. Subuh yang basah. Subuh yang indah. Berharap Mahani berdiri dan memelukku dari belakang tubuhku. Hahaha... hal yang mustahil. Dia yang gak pernah bisa bangun dini hari kadang menjengkelkan aku. Tapi itulah Mahani... Salah satu konsekwensi yang harus aku hadapi karena sudah memilih dia jadi pasangan hatiku ya harus bisa hadapi dia yang gak bisa bangun pagi itulah...
Tapi sudahlah. Kunikmati setiap detikku bersama hujan. Ku sesapi rindu hatiku bersama rinainya. Ku pejamkan mata, kupasang dua telingaku. Hanya hujan yang mengisi setiap aliran darahku. Hanya bau tanah basah yang mengisi kembangnya paru2ku. Damai, tenang, melayang...

"Hujan, hujanku sayang, terima kasih untuk segarnya hari yang kau berikan hari ini. Terima kasih untuk alunan indah yang mengiringi hadirmu. Tolong, jangan lagi beri banjir untukku dan semua saudaraku... Biarkan tenang kali ini dalam musimmu... Cukup berikan indahmu..."

Senin, Agustus 20, 2007

Siklus

Minggu, 19 Agustus 2007. Dua pesan singkat sampai pada layar handphoneku. Satu mengabarkan kelahiran, satunya mengabarkan kematian. Betapa manusia merupakan makhluk yang tidak abadi. Tapi siklus yang memutar kehidupan itu akan terus berlangsung sampai saatnya dia kan terhenti. Hidup dan mati. Mati dan hidup. Setiap detik, pasti ada kematian dan kelahiran. Bisa jadi kelahiran itu merupakan pengganti bagi yang mati. Atau yang mati itu hilang karena sudah ada yang hidup. Atau tidak ada hubungannya sama sekali.

Dalam satu detik, apakah jumlah kelahiran akan sama dengan jumlah kematian? Perang dahsyat yang menewaskan beribu2 orang di Irak, mungkinkah tergantikan dengan kelahiran yang beribu pula dari negara2 padat seperti Cina dan Indonesia? Samakah jumlah manusia di bumi ini setiap detiknya? Pertanyaan yang belum bisa aku dapatkan.

Bumi semakin tua. Siklus jumlah manusia di bumi ternyata tidak berimbang dengan siklus rantai makanan yang tersedia. Saat siklus ini berhenti berputar, kuharap aku tidak akan berada lagi dalam kehidupan.

Rabu, Agustus 15, 2007

WOUND

"Irisan demi irisan dalam luka yang belum lagi mengering
Mengiris dalam dengan sayatan berukir sebuah nama
Berusaha hapuskan semua dengan memaksa keluar semua romantisme
Perih, saat sayatan demi sayatan sang waktu mengelupas indah yang pernah tercipta
Kebodohan nyata yang selalu berulang
Tapi tetap tak berjawab siapa sang penghadir rasa dan asa
Hanya tersisa luka yang tak akan pernah bisa mengering dan hilang"
(Wound, 24 Agustus 2007)

ABORSI


Tertegun, saat sebentuk ingatan mengukir sebuah nama
'Una Communa Sukresa'
Airmata yang tercurah, pedihnya batin yang meratap
untuk sebuah kehilangan yang diinginkan
Asa berharap kau selalu bahagia
Love U always, Son...
I miss U, so...
(Aborsi, 24 Agustus 2007)

SOSOK


Kehadiran yang selalu tiba-tiba berbagai sosok dalam jiwa
Meneduhkan, menentramkan, namun juga mengecewakan dan menyulut amarah
Seiring waktu, sang sosok menyublim meninggalkan bayang samar ingatan
Sayang, rasa tak bisa hilang untuk kemudian menjelma dalam sosok lainnya
(Sosok, 24 Agustus 2007)

TERPERANGKAP

Sudah semakin samar dan sumir
Semakin sadar bahwa cinta itu tak ada
Kasih sayang hanya wujud semesta untuk damba
Perangkap bagi jiwa yang lengah dan lemah
(Bohong, 24 Agustus 2007)

ALONE


Betapa Aku Sangat Mencintai Mereka


Jam 02.00 WIB dini hari tadi aku terbangun. Ku terduduk dipinggir ranjang memperhatikan suami dan anak2ku terkasih terlelap. Betapa aku sangat mencintai mereka...

Aku jadi ingat, dulu sewaktu aku kecil, aku juga sering terbangun tengah malam atau dini hari. Ya, sama seperti yang aku lakukan semalam, aku duduk dipinggiran ranjang dan memperhatikan Bapak, Ibu dan Adikku yang tertidur pulas (saat itu seingatku, aku masih TK besar, berarti sekitar 6 tahun usiaku dan adikku paling bungsu belum lagi lahir). Betapa aku sangat mencintai mereka. Kemudian terpikir dalam pikiran kanak2ku saat itu. Bahwa aku ingin selalu bersama mereka. Hidup dalam kasih sayang mereka. Ketika sampai kesadaran bahwa manusia akan mati, yang terpikir olehku adalah aku ingin mati bersama mereka. Ya, saat itu, aku berpikir untuk bisa mati bersama2 mereka. Karena aku nggak mau, apabila salah satu dari kami harus menjemput maut lebih dulu, akan membuat sedih anggota keluarga yang lainnya. Jadi dalam khayalku, dalam memberitakan kematian kami, yang tampak di surat kabar adalah headline besar "Satu Keluarga mati tertimpa reruntuhan rumahnya sendiri; Tidak ada satupun yang selamat". Atau "Satu Keluarga Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas". Hhhmmm... Khayalan yang sadis, mungkin, tapi sungguh, aku takut untuk merasakan kehilangan atas salah satu anggota keluargaku terkasih.

Masih terekam dalam ingatanku, ketika Bapakku harus lembur di kantornya, maka aku akan terus terbangun menunggu Bapakku pulang. Bila Bapakku pulang terlambat dari waktu yang dijanjikannya, maka aku akan membangunkan ibuku dan terus menerus bertanya kenapa Bapak belum pulang juga. Gak jarang kemudian ibuku menjadi kesal karena pertanyaan2ku itu mengganggu tidurnya adikku... Kemudian saat Bapak sampai rumah, maka aku akan langsung lari ke gendongannya sambil menangis tanpa suara. Tangis takut dan senang. Takut kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Bapakku dan senang karena Bapakku sudah pulang.

Sekarang, sebagai seorang ibu dan istri, ketakutan2 itu juga datang padaku. Tapi semalam, saat aku perhatikan wajah bidadari2ku yang pulas, yang terlintas dalam benakku adalah, aku tidak mau sesuatu terjadi pada mereka. Aku akan melakukan apapun demi mereka. Pikiran ingin mati bersama seperti saat masih bersama Bapak Ibu dulu sempat juga terlintas juga. Tapi segera aku tepis pemikiran itu. Gak adil buat anak2ku... Masa depan mereka masih sangatlah panjang. Tapi seandainya Allah Yang Maha Kuasa mengijinkan, semoga dia panggil aku lebih dahulu sebelum anak2ku dan suamiku. Karena aku gak akan sanggup menahankan rasa sedih karena kehilangan mereka. Betapa aku sangat mencintai mereka. Tapi urusan mati tetaplah urusan Allah. So, aku hanya bisa berharap dan tetap mengembalikan segalanya dalam kehendakNya.


"Ya Allah, betapa aku sangat mencintai mereka. Namun segalanya tetaplah berpulang padaMu jua dan atas kehendakMu. Tiada lain yang aku harapkan hanyalah kebahagian mereka. Orang2 yang sangat aku cintai dengan segenap hati dan jiwaku. Cintailah mereka Ya Allah... Sebagaimana orangtuaku mencintai aku sewaktu aku masih kecil. Pelihara dan lindungilah mereka selalu sepanjang hidup mereka. Kuserahkan segalanya hanya dalam tanganMu... Amien..."

Senin, Agustus 13, 2007

NYAI ONTOSOROH

"Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, Nyo... Adalah kekalahan setelah kita melawan..."

Semalam aku menonton premier pementasan teater Nyai Ontosoroh di Graha Bakti Budaya TIM. Aku nonton bareng Mahani dan Mbak Sasha. Rencana mau nonton bareng kawan2 tanggal 13 Agustus ini. Tapi karena mau memperkenalkan Sasha akan teater dan menghindari kerepotan untuk bolak balik kantor-rumah-TIM, so, aku dan Mahani sepakat untuk nonton tanggal 12 Agustus nya karena bertepatan dengan hari Minggu.
Menit2 awal melihat pertunjukan itu, aku seperti mengalami de ja vu saat aku membaca Bumi Manusianya Pram. Karakter2 dalam buku itu seperti di hadapkan di depanku melalui tokoh2 yang memerankannya. Walaupun setting yang ditampilkan bukan merupakan visualisasi yang sesungguhnya, tapi cukup bisa mengangkat karakter dari tiap2 tokohnya. Sebagai pemeran utama, Happy Salma yang memerankan Nyai Ontosoroh cukup bisa menggambarkan tokoh perempuan ini. Sosok perempuan kuat yang awalnya dikenal dengan Sanikem.
Sanikem kecil dijual oleh orang tuanya untuk menjadi Nyai pada seorang Belanda bernama Herman Milema. Herman Milema yang awalnya baik dan sayang dengan Sanikem. Dia yang mengajarkan kepada Sanikem banyak hal. Membaca, menulis, pengetahuan2 luar biasa yang tidak pernah dibayangkan akan diperoleh Sanikem kecil. Bahkan ilmu untuk menjalankan perusahaan susu yang dimiliki Herman Milema di Hindia Belanda sampai perusahaan tersebut kemudian dialihakan menjadi atas nama mereka berdua. Kehidupan merekapun berbahagia, sampai mereka mempunyai 2 orang anak, laki2 dan perempuan yang diberi nama Robert Milema dan Annelis Milema. Sanikem dan Herman bukan tidak mencoba untuk mencarikan surat absah bagi kedua anak mereka, karena dalam kehidupan Nyai2 pada jaman dahulu merupakan jenis perbudakan halus dan terselubung. Para nyai diharapkan hanya menjadi teman tidur selama para tuan2 Belanda itu berada di Indonesia. Selain juga menjadi pengurus sapi dan ternak yang mereka miliki lainnya. Ontosoroh termasuk yang beruntung, walaupun Milema masih tidak mau menikahinya secara sah di Kantor Catatan Sipil dan menjadi mevrouw Milema.
Badai itu datang saat tiba2 seseorang yang mengaku sebagai Maurice Milema datang ke rumah mereka. dalam pembicaraannya dengan Herman Milema terungkap bahwa ternyata Herman Milema telah mempunyai anak dan istri di Netherland. Perpisahan mereka disebabkan karena Herman menuduh istrinya telah berselingkuh, walaupun tidak memprosesnya secara hukum. Maurice yang saat itu telah berhasil dan menjadi seorang insinyur (salah satu gelar yang sangat dihormati pada saat itu) menuntut haknya dan hak ibunya. Sejak saat itu, Herman Milema pergi dan hanya sesekali pulang kerumah, itupun dalam keadaan mabuk. Nyai Ontosoroh mengalami kesakitan hati yang sangat menghadapi itu semua. Dia jadi mengerti mengapa Herman Milema tidak mau mengawininya secara sah.
Tapi Nyai Ontosoroh bukanlah orang cengeng yang menangisi keadaan dirinya. Dia tetap tegar mengurus perusahaannya dan menjaga kehidupan untuk kedua anaknya. Walaupun anak sulungnya tumbuh menjadi seorang pemuda indo malas dan angkuh yang tidak menyukai dan mengakui keberadaan pribumi -yang diakhir cerita pementasan, tokoh Robert Milema ini tidak diketahui lagi rimbanya setelah pergi dari rumah pelacuran Baba Acong saat Ibu, adik dan iparnya, Minke, mendapatinya baru saja berasik masyuk dengan seorang pelacur Jepang, saat Bapaknya ditemukan mati dirumah pelacuran tersebut.
Bahkan saat anak bungsunya Annelis mau dibawa ke Belanda, karena taktik licik Maurice Milema yang mau mengambil alih harta kekayaannya, Nyai Ontosoroh bersama dengan menantunya berjuang mempertahankan dengan sekuat tenaganya. Dia meminta menantunya menulis dan menceritakan ketidak adilan yang mereka hadapi, serta melakukan pengorganisiran dengan dibantu pembantu setianya, Darsam. Walaupun kemuadian akhirnya mereka tetap harus kalah dan Annelis tetap harus pergi ke Netherland tanpa ibu dan suaminya, tapi kata2 Nyai Ontosoroh kepada Minke yang sampai saat ini masih terngiang di kupingku. "Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, Nyo... Adalah kekalahan setelah kita melawan...". Di seperempat bagian terakhir inilah yang paling aku suka dalam pementasan teater tersebut. Semangat yang menyala dari seorang perempuan yang mempertahankan haknya yang tertindas. Nyai Ontosoroh sungguh mengispirasi aku malam itu. Aku bercerita terus mengenai hebatnya Nyai itu ke anakku Aisha Sukma Bening. Aku berharap kelak dia mempunyai jiwa seperti Nyai Ontosoroh. Perempuan tegar yang tidak lembek oleh apapun keadaan yang menimpanya.
Saat berusaha menerangkan jalannya cerita ke anakku itu, aku nggak peduli dia mengerti atau tidak. Tapi aku yakin pementasan teater ini akan menjadi sesuatu yang berkesan dan membekas di memorinya. Dan kini, dalam setiap doaku, anak2ku bisa menjadi sosok tegar seperti Nyai Ontosoroh, walaupun aku tidak pernah berharap mereka akan mengalami nasib seperti yang dialami Nyai Ontosoroh. Dan Nyai Ontosoroh juga yang kini menjadi salah satu tokoh yang aku kagumi dan aku tiru keindahan jiwanya.

Jumat, Agustus 10, 2007

Dunia (ku) --> REBORN

Karena sebuah peristiwa yang mengombang ambingkan hati, duniaku menyempit. Sebatas lingkup hanya dia dan aku. Seperti katak dalam tempurung. Yang ada dalam pikirku hanyalah satu nama yang beberapa saat lalu mengisi hari2 di tengah kesibukan duniaku. Warna baru. Indah. Dan aku seperti tenggelam di dalamnya. Tanpa kusadari aku semakin tersedot dalam rasa yang sepertinya menelan segala kesepian yang kupunya. Satu rasa yang membuatku menjadi addicted untuk selalu bisa berhubungan dengannya.
Entahlah, aku sendir gak pernah tau ini apa. Karena aku tau tetap ada batas tebal yang akan selalu menjaga jarakku dengannya. Bahkan dengan format yang kubuat sendiripun rasanya membuatku menjadi semakin gelisah. Aku tau ada yang gak beres denganku, sampai semuanya harus berakhir secara tiba2. Duniaku semakin menyempit, hanya sebatas dia dan aku. Semakin aku bagai katak dalam tempurung. Kebodohan yang kubuat sendiri. Sementara hidup menyediakan beragam warna menarik yang akan selalu bisa kuselami.
Sekarang, saat ini, aku tau bahwa duniaku sedemikian luasnya. Ada banyak yang bisa aku lakukan untuk tetap berdiri di atas kakiku dan melakukan semua hal untuk banyak hal. Aku, gak mau menjadi katak dalam tempurung. Aku adalah aku yang akan tetap menjadi diriku. Semua yang lalu, lagi2 menjadi satu fragmen indah dalam hidupku. Dan seperti kataku. Kalau hatiku sudah terlanjur sayang, maka dia gak akan mudah hilang begitu saja. Tapi, tak akan sayang itu menjebakku lagi. Aku masih punya dunia. Yang indah dan gemerlap dalam bingkai mataku. Karena sayang itu ada di mana2 untukku. Maka akan kuisi hari2ku dengan indahnya rasa syukur atas sayang dan cinta yang tersedia untukku.

"Thanks, God. I know that You will always be there fo me. To keep me save and warm..."